Rabu, 16 Mei 2012

 Descriptive Text tentang Gitar



My most valuable possession is an old, slightly warped blond guitar--the first instrument I taught myself how to play. 

It's nothing fancy, just a Madeira folk guitar, all scuffed and scratched and finger-printed. At the top is a bramble of copper-wound strings, each one hooked through the eye of a silver tuning key. The strings are stretched down a long, slim neck, its frets tarnished, the wood worn by years of fingers pressing chords and picking notes. The body of the Madeira is shaped like an enormous yellow pear, one that was slightly damaged in shipping. The blond wood has been chipped and gouged to gray, particularly where the pick guard fell off years ago. 

No, it's not a beautiful instrument, but it still lets me make music, and for that I will always treasure it.


Ali Baba was such a poor man that he had only one shoe for his two feet. Even the mice in his house were hungry.
One day, his wife said, "We have no food in the house. No rice. No potatoes. Go and collect leaves in the forest so that I can make a soup."

Ali was a lazy man. He looked for leaves for about ten minutes and then he climbed a tree to sleep. He was afraid of wolves. When he woke up, he was surprised to see forty thieves on forty horses. They stopped in front of a big rock.

"Open Sesame!" shouted the leader. A door on the rock opened. The thieves carried sacks full of gold into the cave. When they had finished, the leader shouted.
"Close Sesame!" and the door closed. As soon as the thieves had disappeared Ali Baba jumped down from the tree, said, "Open Sesame" and went into the cave.

There were shelves all around the walls. The shelves were full of sacks. And the sacks were full of gold. Ali took a sack home with him.
Unfortunately, one of the thieves saw Ali's footprints on the sand. He followed them to Ali's home. He took out his knife and made a cross on the door.

"Now I shall know which house it is," he said.
 
He rode off to get the other thieves. But Ali had seen the thief.
 
He and his wife took brooms and swept away the footprints. Then he made crosses on every door at the street. When the forty thieves arrived they had their knives between their teeth. But they couldn't find either Ali – or the gold. And Ali and his wife lived happily ever after.



Ali Baba adalah seorang pria miskin yang hanya memiliki sebuah sepatu di kedua kakinya. Bahkan tikus-tikus di rumahnya juga kelaparan.

Suatu hari, istrinya berkata, "Kita tidak mempunyai makanan di rumah. Tidak ada beras. Tidak ada kentang. Pergi dan kumpulkan daun-daunan di hutan sehingga saya bisa membuat sup."

Ali adalah seorang pria yang malas. Dia mencari daun-daunan sekitar 10 menit dan kemudian dia memanjat pohon untuk tidur. Dia takut dengan serigala. Ketika dia bangun, dia terkejut melihat 40 pencuri menunggang 40 kuda. Mereka berhenti di depan sebuah batu besar.

"Buka Sesame!" teriak sang pemimpin. Sebuah pintu pada batu tersebut pun terbuka. Pencuri-pencuri tersebut membawa kantong-kantong yang penuh dengan emas ke dalam gua. Ketika mereka telah menyelesaikannya, sang pemimpin berteriak.

 "Tutup Sesame!" dan pintu tersebut menutup. Segera setelah pencuri-pencuri tersebut telah pergi Ali Baba loncat turun dari pohon, berkata, "Buka Sesame" dan pergi ke dalam gua tersebut.

Terdapat rak-rak di seluruh sekeliling dinding tersebut. Rak-rak tersebut penuh dengan kantong-kantong. Dan kantong-kantong tersebut penuh dengan emas. Ali mengambilnya satu kantong dengannya ke rumah.

Sayangnya, salah satu dari pencuri-pencuri tersebut melihat jejak kaki Ali di pasir. Dia mengikutinya sampai ke rumahnya Ali. Dia mengeluarkan pedangnya dan membuat tanda silang di pintunya.

"Sekarang saya sudah tahu rumah yang mana ini," dia berkata.

Dia berkendara pergi untuk memberitahu pencuri yang lain. Tetapi Ali telah melihat pencuri tersebut.

Dia dan istrinya mengambil sapu dan menyapu jejak-jejak kaki. Kemudian dia membuat tanda silang di semua pintu di jalan. Ketika 40 pencuri tersebut datang dengan pisau-pisaunya diantara gigi-gigi mereka. Tetapi mereka tidak dapat menemukan Ali atau emas tersebut. Dan Ali dan istrinya hidup senang selamanya.

Zaman logam
  • 1. • Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat- alat dari batu.• Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan.• Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue.
  • 2. • Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.• Zaman logam ini dibagi atas: – 1. Zaman Perunggu – 2. Zaman Besi – 3. Zaman Tembaga (tidak terlalu berkembang di indonesia)
  • 3. Zaman Perunggu• Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat kebudayaan) ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.• Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain :a. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa- Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irianb. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa- Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
  • 4. Kapak Corong
  • 5. Nekara
  • 6. c. Bejana perunggu di Indonesia ditemukan di tepi Danau Kerinci (Sumatera) dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng.• Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J.
  • 7. Bejana Perunggu
  • 8. d. Arca perunggu/patung yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk beranekaragam, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya.• Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai liontin/bandul kalung.• Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Bangkinang (Riau), Palembang (Sumsel) dan Limbangan (Bogor).
  • 9. Arca Perunggu
  • 10. e. Candrasa• Kalau dilihat dari bentuknya, tentu Candrasa tidak berfungsi sebagai alat pertanian/pertukangan tetapi fungsinya diduga sebagai tanda kebesaran kepala suku dan alat upacara keagamaan. Hal ini karena bentuknya yang indah dan penuh dengan hiasan.
  • 11. Candrasa
  • 12. f. Perhiasan : gelang, anting-anting, kalung dan cincin.• Jenis perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin.
  • 13. • Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar (mata uang).• Daerah penemuan perhiasan perunggu di Indonesia adalah Bogor, Malang dan Bali.
  • 14. Perhiasan
  • 15. Zaman Besi• Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.• Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:• a. Mata Kapak bertungkai kayu• b. Mata Pisau• c. Mata Sabit• d. Mata Pedang• e. Cangkul
  • 16. • Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur)• Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah.
  • 17. TABEL KEBUDAYAAN LOGAM
  • 18. • Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan di Eropa, karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/bagian, yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi.• Sedangkan di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih dominan adalah alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam disebut juga dengan zaman perunggu.
  • 19. • Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalitikum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalitikum justru pada zaman logam.
  • 20. KESIMPULAN• Manusia pada zaman logam itu sudah tergolong berkembang karena manusia pada zaman ini sudah mampu memproduksi barang atau alat terlebih menggunakannya, yang terbuat dari aneka logam dengan cara teknik a cire perdue dan bivalve